Alih Fungsi Pendopo Kabupaten Jadi Museum Kartini

elangmur - Minggu, 16 November 2025 | 20:42 WIB

Post View : 208

Pendopo Kabupaten Jepara- yang alih fungsi menjadi bagian dari Museum Kartini. Foto istimewa.

Jepara, Elang Murianews (Elmu)- Pendopo Kabupaten Jepara yang dibangun kali pertama Adipati Citrosomo III abad ke-18, mulai Sabtu malam (15/11/2025) dialih-fungsikan menjadi bagian dari Museum Kartini. Dan diresmikan Menteri Kebudayaan Fadli Zon , yang didampingi ,Bupati Jepara Witiarso Utomo, Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat, serta Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Abdul Wachid.

        Sedang Museum Kartini yang berada di pojok depan pendopo seberang jalan raya itu sendiri diresmikan Bupati Jepara, Sudikto 21 April 1977. Dengan gedung bangunan berbentuk K,T,N, singkatan dari Kartini.

       Fsdli Zon mengapresiasi mendalam atas inisiatif Pemkab Jepara mengubah rumah dinas bupati menjadi bagian dari museum RA Katini . Dan menyatakan kualitas bangunan, isi, dan “storyline” (alur ceritera) museum sudah sangat baik. Ke depan, museum dinilai berpeluang besar menjadi cagar budaya nasional dan ruangedukasi yang hidup bagi masyarakat. “Tinggal menambahkan sentuhan teknologi digital seperti konten imersif atau cuplikan film agar semakin hidup. Tapi ini saja sudah luar biasa. Rohnya, soulnya, benar-benar terasa,” ungkapnya.

       Dan museum ini mampu mengangkat semangat dan jiwa Kartini, tokoh perempuan yang pada usia muda sudah memperjuangkan pendidikan dan emansipasi perempuan. “Nilai-nilai Kartini harus ditularkan pada generasi baru. Museum ini menjadi ruang kontemplasi untuk mengenang perjuangannya,” tambahnya.

Alih fungsi - pendopo dan rumah dinas Bupati Jepara menjadi bagian dari Museum RA Kartini. Diresmikan Menteri Kebudayaan Fadli Zon (depan kedua dari kiri) Sabtu (15/11/2025) yang didampingi (depan kiri, Wakil Ketua Komisi VIII/DPR RI Abdul Wachid), Wakil Ketua MPR RI Lestari Moedijat dan Bupati Jepara Witiarso Utomo ( di belakang Menteri Kebudayaan). Foto istimewa.

  Selain aspek sejarah, Menteri Kebudayaan juga menyoroti potensi museum sebagai mesin ekonomi budaya, termasuk pengembangan merchandise eksklusif bertema Kartini yang hanya bisa ditemukan di Jepara. Merchandise eksklusif adalah bagian dari strategi branding (citra) yang kuat.

    Menurut Bupati Jepara, Witiarso Utomo, bekas pendopo dan rumah dinas bupati Jepara didesain menjadi lima zona .Yaitu Zona Geografis Jepara – mengenalkan Jepara dari sisi sejarah dan lokasi., Zona Keluarga Kartini – menampilkan kehidupan keluarga Kartini., Zona Terbit Terang Pemikiran Kartini – memuat gagasan dan surat-surat Kartini,Zona Kartini Berkesenian – menampilkan kedekatan Kartini dengan seni ukir dan budaya Jepara dan Zona Interaksi Pengunjung – ruang interaktif untuk edukasi dan aktivitas publik.

    Kepala Seksi (Kasi) Sejarah dan Purbakala, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Jepara, Lia Supardianik menjelaskan, Pendopo Kabupaten Jepara dibangun pada masa Pemerintahan Adipati Citrosomo III pada abad ke-18. Dan sampaia sebelum dialih-fungsikan menjadi bagian dri Museum Kartini berfungsi sebagai kantor pemerintahan sekaligus tempat tinggal bagi Adipati/bupati.

       Sedangkan bangunan samping kanan dan kiri Pendopo, di bangun dalam jarak waktu yang berbeda dengan dibangunnya Pendopo. Di sisi kiri pendopo, terdapat bangunan rumah bergaya kolonial yang berfungsi sebagai rumah dinas Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Jepara. Namun, saat ini rumah tersebut dalam keadaan kosong atau tidak ditempati.

      Lalu di sisi kanan terdapat Gedung Sekretariat Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) yang dulunya digunakan sebagai tempat beraktivitas oleh RMA. Ngasirah, ibu kandung RA. Kartini. Sementara Gedung Setda Jepara yang didalamnya terdapat ruang kerja Bupati, menurut Lia dulunya merupakan rumah sakit. Bangunan tersebut juga memiliki usai yang lebih muda daripada Pendopo dan bangunan yang berada di sekelilingnya. Ruang Pradonggo Birowo di komplek Pendapa Kabupaten Jepara tempat menyimpan Gong Senen. (Foto: Dok. google)

      Gong Senen, menurut Suara Baru 4 Januari 2022, yang mengutip keterangan petinggi /kepala Desa Seninan Kecamatan Kota Jepara, adalah seperangkat gamelan mistis dan misterius yang tiba-tiba muncul dan berada di Pendopo kabupaten Jepara yang pada waktu itu dipimpin Adipati Tjitrosomo pada tahun 1745-1778.

     Diceritakan, ketika pagi tiba, Sang Adipati keluar ruangan, sudah ada seperangkat gong beserta gamelan berada di pendopo. Namun tidak ada yang tahu siapa pemilik gong tersebut. Pada waktu Adipati Tjitrosomo memerintahkan untuk memainkan alat tersebut, gong tersebut tidak keluar bunyi sama sekali. Dicoba berkali-kali gong tersebut tetap tidak mengeluarkan bunyi.

     Pada akhirnya diadakanlah sayembara untuk membunyikan gong tersebut, jika berhasil membunyikan dan memainkan akan diberikan hadiah. Berbondong-bondong orang mendaftarkan diri untuk ikut sayembara tersebut. ribuan orang mendaftar.

   Namun, dari seluruh peserta sayembara itu, seorang Lurah dari desa Senenan yang berhasil membunyikan dan membuat nada yang pas untuk seperangkat gamelan tersebut. Dari kisah tersebut, akhirnya yang ditugasi untuk menabuh adalah warga desa tersebut, berikut keturunannya kelak.

     Setelah orang dari desa Senenan berhasil memainkan seperangkat gong tersebut, seperangkat alat musik tersebut kembali dibiarkan tanpa dimainkan. Pada suatu ketika dicoba orang dari daerah lain. Tetap gong tersebut tidak bisa mengeluarkan bunyi. Konon malah mendatangkan bebendu atau bencana yang menyerang warga Jepara. Bencana tersebut berupa wabah penyakit yang menyerang masyarakat.

 Kemudian Adipati Tjitrosomo menetapkan pemain dari gong tersebut adalah orang dari desa Senenan. Akhirnya, Gong Senen dimainkan tiap hari Senin pukul 06.30-07.00 sebagai pembuka aktivitas para pegawai di Kabupaten Jepara. Gong tersebut dimainkan dari sebelah ruangan yang bernama Pradonggo Birowo. Terletak di sebelah selatan pendapa, di situlah enam niyaga (penabuh gamelan) memainkan gending-gending.

     Pernah suatu ketika Sunan Hadiningrat Surakarta meninjau Kadipaten Jepara. Melihat gamelan itu, dan ia memboyongnya ke Keraton Surakarta. Kurang dari 40 hari kemudian, gamelan tersebut tiba-tiba sudah berada di pendopo Kadipaten Jepara lagi.Satu set Gong Senen, terdiri dari dua set kecrek, dua set kendang, dua set kempul dan sebuah gong besar. Dan sampai sekarang, atau sekitar 247 tahun terakhir Gong Senin selalu ditabuh dengan mengetengahkan empat buah gending obrokan, Cara Balen, Kethuk Tutul dan Kodok Ngorek. (sup)

Halaman:

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Berita Terkini

img single