
Kudus, Elang Murianews – Desa Temulus Kecamatan Mejobo , termasuk salah satu desa pelanggan banjir di Kabupaten Kudus. Sebab terletak di didataran rendah. Dan menjadi lintasan terakhir aliran Sungai Dawe yang bermuara di Sungai Juwana (JU )1. Sungai Dawe sepanjang 23,47 kilometer dan berhulu di kawasan Gunung Muria masuk Desa Ternadi Kecamatan Dawe, setiap musim hujan selalu banjir air bercampur lumpur. Selain itu juga diperparah dengan berserakan aneka jenis sampah di hampir sebagian besar “badan” sungai Utamanya di mulut mulut jembatan. Dan belum pernah sekalipun dinormalisasi dari hulu sampai hilir.
Sedang kondisi Sungai JU 1 nyaris sama.Selain penuh lumpur, juga dipenuhi enceng gondok. Sungai buatan ini “berhulu” di seputar Desa Jetis Kapuan , Tanjungkarang (Kecamatan Jati) dan ketika sampai di Desa Gulang (Mejobo), “ditumpuki” air dari sungai di Desa Ngemplak (Undaan). Setelah bergabung- menyatu di Desa Gulang, kemudian mengalir ke wilayah Desa Payaman, Kirig, Temulus , Jojo (Mejobo), kemudian masuk wilayah Desa Sadang (Kecamatan Jekulo), lalu menyatu ke Sungai Juwana yang berada di wilayah Kecamatan Margorejo Kabupaten Pati. Dan berakhir di Laut Jawa wilayah Kecamatan Juwana .
Sebelum aliran Sungai Dawe masuk wilayah Desa Temulus, terlebih dahulu melewati bagian belakang bangunan masjid yang berada di tepi jalan raya Mejobo – depan pasar Brayung. Atau berdekatan dengan jembatan dekat warung sate kambing- masuk wilayah Desa Golantepus (Mejobo). Sekilas bangunan belakang masjid menjorok ke badan sungai, sehingga ketika banjir sebagian dinding dan fondasi bangunan pasti tergerus.

Di seputar lokasi ini kondisi Sumgai Dawe tidak lagi lurus, tetapi “menabrak “ tanggul sungai. Badan sungainya juga menyempit. Apalagi terdapat gundukan lumpur yang cukup tebal. Menempel dinding sungai sisi utara. Juga nampak sebuah jembatan kayu yang menghubungkan pemukiman warga dengan masjid.
Setelah itu baru “melewati” jembatan yang kondisi bangunannya kurang tinggi dan kurang lebar. Bahkan di pojok timur yang berdekatan dengan tembok masjid juga terlihat gundukan tanah dan lumpur. Di lokasi inilah air (banjir) lebih dahulu “muntah” – meluber ke jalan raya- perkmapungan –persawahan Desa Mejobo dan Desa Golantepus. Namun menurut Kepala Seksi Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kudus , Ahmad Munaji, tidak sependapat jika masjid dan jembatan tersebut menjadi salah satu penyebab utamanya terjadinya banjir di Desa Temulus. “Itu karena faktor tingginya pelumpuran di Sungai Dawe dan dan sebagian hilir Sumgai JU 1 dangkal,” ujarnya Kamis malam ( 6/11/2025).
85 persen tergenang
Menurut wakil Ketua Badan Permusyaratan Desa (BPD) Temulus, Giarto “konstruksi” yang ditemui secara terpisah, jika desanya kebanjiran, maka hampir 85 persen dari total luas wilayah yang mencapai 415,232 hektar tergenang. Dan sejak beberapa tahun terakhir banjir tidak separah tahun sebelumnya. Hal ini disebabkan, sebagian besar dinding Sungai Dawe sejak dari pertigaan masjid/jalan raya himgga Sungai JU 1 sepanjag 3-4 kilometer sudah dirombak menjadi dinding dan tanggul beton. Juga pernah dikeruk dan “dibersihkan” dari aneka jenis sampah. “Hanya saja- terutama saat ini menjelang musim penghujan tiba, sampah kembali berserakan di sepanjang “badan “ sungai. Termasuk “menggunungya” kembali lumpur sungai, sehingga warga khawatir kebanjiran lagi.” tuturnya.
Namun yang lebih memprihatinkan lagi, ketika para petani Desa Temulus, sampai sekarng belum pernah sekalipun menikmati keuntungan dalam arti yang sebenarnya. “Setahun hanya panen (padi) sekali. Itupun dengan hasil produksi yang tidak maksimal. Sawah lebih banyak yang tergenang, sehingga banyak warga yang mencari sumber penghasilan lain. Terutama yang menonjol berbudidaya ternak kambing domba,” tambah Giarto.
Luas sawah Desa Temulus sebenarnya cukup memadai karena mencapai 214 hektar dan lahan perkebunan tercatat 15,5 hektar.Dengan jumlah penduduk 6.928 jiwa ( data per November 2020., yang tersebar di Dukuh Karang Gayam, Karang Malang, dan Kambangan. Terbagi menjadi 6 rukun warga (RW) dan 33 Rukun Tetangga (RT).Ditunggu tangan tangan kreatif untuk merubah “lahan tidur” seluas 214 hektar tersbut menjadi lahan produktif. (sup).