
Kudus, Elang Murianews (Elmu) – Desa Temulus Kecamatan Mejobo Kabupaten Kudus, kini berkembang menjadi sentra ternak kambing. Dengan jumlah kandang sekitar 350 unit dan jumlah kambingnya lebih dari 3.500 ekor. Sedang seluruh kandang berada jauh dari pemukiman penduduk. Tepatnya di sebelah selatan pemukiman, Atau seputar lapangan olahraga dan depan seberang jalan perusahaan penggilingan. Atau seputar kandang ternak sapi Gapoktan Sidorejo, sehingga warga tidak terganggu dengan bau kandang ternak. Sebagian lahan untuk kandang milik peternak sendiri dan sebagian lagi menyewa lahan milik perangkat desa setempat. “Saya belum genap setahun menjadi peternak kambing, tetapi jumlah kambing saya terus meningkat, Sekarang antara 60 – 70 ekor. Semuaya kambing jenis domba. Berwarna putih bersih,” tutur Giarto sambil mengantar Elmu melihat langsung kondisi kandang dan domba yang terletak sekitar satu kilometer dari rumahnya.
Kandang terdiri dua unit yang telah dilengkapi dengan listrikk. Sebagian besar berbahan kayu. Namun ditopang dengan pilar pilar beton. Dan berketinggian lebih dari satu meter. “Ini untuk menghindari kemungkinan diterjang banjir. Minimal terhindar dari genangan air. Termasuk sebagai sarana untuk menjaga- mempermudak kebersihan seputar kandang.” tambah pria yang sehari-harinya bergelut di bidang konstruksi dan terpilih sebagai Wakil Ketua Badan Permusyawaratan Desa, Kamis sore ( 6/11/2025). Bahkan nyaris setiap malam sejumlah anggota keluarga maupun kawula muda, memberi makan ternak sambil “kongkow – kongkow”. Ngopi bareng.

Giarto tertarik mengikuti para tetangga yang lebih dahulu beternak kambing, setelah mempelajari seluk beluknya dan dalam banyak hal menguntungkan- terutama dari sisi bisnis/usaha. Lagi pula juga dilatar-belakangi pernah membantu ayahnya , Masiran (sebelum meninggal dunia dua tahun lalu) yang sukses menjadi peternak sapi dan sebagai ketua mengantarkan Gabungan kelompok tani (Gapoktan) Sidorejo Desa Temulus Kecamatan Mejobo Kabupaten Kudus menjuarai lomba ternak sapi bibit tingkat Provinsi Tengah 2007 dan tingkat nasional 2009. “Selain itu saya pernah diajak studi banding. Jadi menyangkut peternakan sedikit banyak paham, Apalagi dalam banyak hal beternak kambing lebih mudah dilakukan dibanding beternak sapi.”
Akhirnya Giarto mantap untuk beternak kambing gibas. Langkah pertama yang dilakukan menyewa lahan milik perangkat Desa Temulus untuk dijadikan kandang dan untuk ditanami kangkung sebagai makanan utama kambing . Kemudian membeli kambing muda seharga di kisaran Rp 1,5 juta/ekor. “ Selain kangkung, pakan lain sebagai tambahan adalah rumput dan kulit/ampas ketela pohon. . Saya juga memberi makan tiga kali sehari. Berbeda dengan peternak lain yang umumnya dua kali dalam sehari. Hasilnya berat badan kambing meningkat secara signifikan., sehingga harga jualnya juga lumayan tinggi, yaitu sekitarbRp 2,5 juta. Sehingga keuntungan bersih paling tidak mencapai Rp 1 juta /ekor. Bahkan keuntungan lebih banyak lagi saat hasil penjualan di saat nenjelang hari raya kurban.”
Keuntungan juga diperoleh dari anakan yang lahir dari kambing induk setahun bisa dua kali.Sebab masa bunting selama lima bulan atau 150 hari. Tingkat kelahiran minimal 1 ekor, tapi bisa 2-3 ekor, Sedang tingkat kematian relatif rendah, hanya seputar 10 persen saja. “Pemasarannya juga tidak ada problem. Jadi secara keseluruhan beternak kambing- khususnya kambing gibas, jauh lebih menguntungkan dibanding dengan usaha di bidang pertanian. Khususnya dalam penanaman padi,”tutur Giarto mengakhiri bincang bincang dengan Elmu. (Sup)