
Kudus,Elang Murianews- Nama panjangnya Muhammad Nur Syamsul Huda, tetapi lebih akrab dipanggil Huda. Pemilik Galeri Menara Kudus (GMK), yang berada di salah satu bagian dari rumah peninggalan sang ayah. Rumah itu menghadap ke arah selatan dengan pelataran yang lumayan lebar.Terletak di utara pagar tembok komplek Menara Masjid Makam Sunan Kudus (M3SK). Dan beberapa meter sebelah barat tepi jalan Menara. Masuk wilayah Desa Demaan Kecamatan Kota Kudus.
Hanya saja karena di bagian depan rumah dan timur rumah terdapat dinding rumah tetangga, maka cukup mengganggu pandangan untuk melihat secara langsung sosok GMK. Dan GMK sendiri berukuran memanjang sekitar 6 meter x 2,5 meter. Disekat dinding kayu di bagian kanan kiri belakang. Di dinding kayu itulah dipajang berbagai ragam karya seninya. Sedang lantai ruangan berfungsi sebagai ruang tamu , sekaligus ruang “praktek”. “ Tamu kami tidak melulu dari Kudus dan sekitarnya. Tetapi juga dari Jakarta dan Timur Tengah,” tuturnya.
Adapun isi GMK didominasi lukisan komplek M3SK- terutama “wajah Menara” dari arah belakang dan depan. Dengan kondisi telah terbingkai apik, beraneka ukuran dan siap untuk dijual dari ribuan hingga jutaan rupiah kepada yang berminat. Selain itu juga sejumlah kaligrafi.

Kaligrafi berasal dari bahasa Latin : 'kallos' artinya indah dan 'graph' artinya tulisan atau aksara, sehingga menurut buku Seni Kaligrafi Islam yang ditulis Sirojuddin A.R : kaligrafi adalah kepandaian menulis elok (indah) atau tulisan elok.Sedang Dalam bahasa Arab, seni menulis indah ini disebut Khat, atau kaligrafi Arab.
Kaligrafi Arab telah ada sejak masa kepemimpinan khalifah Utsman bin Affan. Kaligrafi mulai lahir ketika Utsman berupaya mengumpulkan ayat suci Al-Qur'an menjadi mushaf.( salinan Al-Qur'an yang berbentuk lembaran-lembaran naskah tulis atau dalam bentuk buku).
Utsman mengembangkan cara dan gaya penulisan ayat-ayat Al-Qur'an agar umat Islam tertarik untuk membaca dan mempelajarinya. Demikian seni kaligrafi yang berkaitan dengan kalam-kalam Allah diyakini hadir sejak masa kekhalifahan Utsman.
Sejak itu pula, kaligrafi dikenal sebagai warisan seni Islam yang menunjukkan perkembangan dan kemajuan peradaban Islam dalam segi budaya dan keilmuan. Selain identik dengan ayat-ayat Al-Qur'an, kaligrafi Arab tersusun dari kalimat hadits Nabi Muhammad SAW, syair, sampai kata-kata mutiara berbahasa Arab. Kaligrafi juga biasa diukir indah pada sejumlah media, seperti tembok, dinding, kertas, hingga kanvas “ dan saya sudah muncul sebagai juara sayembara kaligrafi tingkat nasional di Majid Istiqal Jakarta tahun 1995. Saya waktu itu masih berusia 13 tahun. Itu yang sebelah kanan kecil sediri,” tuturnya sembari memperlihatkan tiga lembar foto dokumentasinya.

Huda yang sejak lahir 42 tahun lalu dan tinggal bersebelahan dengan M3SK, sehingga ia sangat paham “sosok” M3SK. Terutama Menara dan Sunan Kudus yang nama aslinya Jafar Shodiq. Lagi pula pernah belajar di sekolah madrasah Qudsiyyah , di pondok pesantren. Tarbiyatul Qur'an Kendaldoyong Banjarejo Ngadiluwih Kediri, dan di Nurul furqon Cibinong – Bogor.
Oleh karena itu ketika dia menghadirkan GMK, memberanikan diri memasang “iklan” di salah satu sudut GMK. Dengan tulisan Galeri Seni Menara Kudus adalah : galeri yang menampilkan lukisan bernuansa bentuk Menara Kudus. Mulai dari ayat singgasana (ayat kursi) berbentuk menara Kudus. Bentuk bangunan tua Menara Kudus tahun 1880 an dan legenda bangunan tua di masa depan.
Ada juga mushaf Al Quran dan menyediakan edukasi kaligrafi klasik ( merupakan budaya Islam seni menulis halus), melukis dan mewarnai kaligrafi). Yang menarik lagi, ada lukisan pemandangan yang indah dan siap menerima pesanan wajah ganteng maupun cantik.
Untuk kaligrafi Arab klasik, bagi yang berminat , Huda memasang tarif Rp 100.000,-, dengan fasilitas yang bisa dibawa pulang : buku panduan, media tulis, alat tulis dan tinta. Lalu untuk melukis kaligrafi Arab ( Rp 150.000,-, media lukis, alat lukis, cat 12 warna). Menggambar (Rp 10.000,-, media gambar, krayon).
Kemudian mushaf dan dekorasi dipatok Rp 1 juta. Dengan fasilitas yang bisa dibawa pulang : kerangka materi, media lukis, alat tulis, cat, spidol posca dan tinta.
Bahkan Huda, yang dikarunia seorang anak perempuan ini bergiat pula sebagai Ketua Yayasan Desa Wisata Nusantara (Dewisnu) Kabupaten Kudus. , Sekretaris Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kudus, Seksi Promosi kelompok sadar wisata (Pokdarwis) Menara Desa Kauman Pengurus bidang kaligrafi JOH Nahdlatul Ulama (NU) Jawa Tengah, hingga anggota Forum Kader Bela Negara RI,” Oleh karena itu saya siap pula menyajikan kuliner khas Desa Kauman Kecamatan Kota Kudus, nasi jangkrik goreng, minuman temulawak dan krupuk. “ Satu paket seharga Rp 50.000,- . Nasi jangkrik goreng biasanya hanya tersaji setahun sekali bersamaan dengan ritual Buka Luwur Kanjeng Sunan Kudus. Konon nasi jangkrik goreng, salah satu makanan kegemaran Sunan Kudus,".
Huda sempat menampilkan nasi jangkrik goreng pada festival kuliner Sego bungkus godhong pada arena Pokdarwis ke XIII tingkat Jawa Tengah di Kabupaten Purworejo 27-28 Februari 2024. Dengan hasil juara IV. Ini sebagai salah satu bentuk untuk memperkenalkan Nasi Jangkrik Goreng kepada masyarakat umum. “Jadi kehidupan sehari-hari ngiras-ngirus semua potensi di Kudus saya coba promosikan. Sebagai pelestari budaya tulis,pegiat menulis Arab klasik, juga ikut berkiprah di ranah desa wisata. Semuanya masih dalam proses belajar,” ujarnya merendah.(Sup).