
Kami tidak pernah menyangka, tidak pernah. Sejak kakek-nenek kami hidup di sini, belum pernah kami melihat air sungai mengamuk sebegini rupa. Bukan lagi air, tapi lumpur cokelat yang meraung, membawa serta batang-batang kayu besar, bebatuan, dan yang palingmenyakitkan—harapan kami. Kami, 2.851 jiwa dari Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Tapanuli Utara, dan Kota Sibolga, kini hanya bisa menatap puing. Kami mengungsi, kehilangan atap, kehilangan kenangan, kehilangan segalanya.
Yang Terlalu Cepat Pergi
Sungguh pedih hati kami. Sembilan belas orang sudah dipastikan tiada. Saudara, tetangga, anak-anak kecil. Mereka diseret, ditimbun. Setiap kali mendengar suara sirene tim evakuasi, dada kami sesak. Kami tahu, jumlah itu masih bisa bertambah. Kami hanya bisa berdoa, sambil terus mencermati wajah-wajah lesu di sekitar kami, takut-takut jika salah satu dari mereka adalah korban yang kami kenal. "Kami hanya memohon, tolong temukan mereka. Walau hanya tinggal jasad, kami ingin mengantar mereka dengan layak..."—Itulah ratapan yang kami dengar setiap jam.
Hutan Kami, Pelindung Kami yang Hilang
Mereka bilang ini karena Siklon Tropis KOTO dan Bibit Siklon 95B. Mereka bilang ini karena cuaca ekstrem yang membawa hujan tak berkesudahan dan angin yang merobohkan. Tapi kami tahu, kami merasakan ada yang berbeda.
Kami melihat dengan mata kepala kami sendiri. Bukit-bukit di belakang desa kami, yang dulunya rimbun dan perkasa, kini botak. Pohon-pohon besar yang akarnya menahan tanah, kini lenyap. Mereka menebanginya, terus dan terus, tanpa henti.
Kami mendengar suara mesin berat, siang dan malam. Kami tahu tentang penebangan kayu yang masif dan pertambangan emas PT Agincourt Resources. Kami tahu tanah kami dikeruk. Walhi sudah berteriak, tapi suara kami, suara rakyat kecil, seolah tak terdengar.
Apakah ini harga yang harus kami bayar atas kerakusan mereka? Apakah air bah ini adalah luapan amarah dari bumi yang telah kami biarkan dirusak? Hujan turun deras, tapi tanpa akar pohon untuk menahan, tanah itu, yang sudah gembur oleh pengerukan, luruh begitu saja. Bukan lagi banjir biasa, ini longsor lumpur yangmematikan.
Terputus dan Terjebak
Bagaimana kami bisa meminta bantuan cepat? Sejak Selasa itu, jaringan telekomunikasi putus total. Kami terisolasi, hanya bisa mengandalkan mulut ke mulut dan langkah kaki yang lelah. Bayangkan betapa takutnya kami ketika mendengar kabar 50 orang terjebak di hutan Hutanabolon, Tapanuli Tengah. Mereka lari ke dalam hutan untuk mencari tempat tinggi, tapi kini mereka terputus, tanpa kabar, tanpa makanan. Seorang kerabat mereka bercerita dengan mata berkaca-kaca, "Mereka masuk ke sana menghindari air bah, tapi sekarang mereka sendirian. Kami tak tahu nasib mereka..." Kami merintih, kami memohon. Kami butuh bantuan, kami butuh makanan, selimut, dan obat-obatan. Tapi yang paling kami butuhkan adalah pertanggungjawaban.
Apakah kami harus terus dihukum oleh alam yang kami cintai, hanya karena segelintir orang merusaknya demi uang? Tolong dengar jeritan kami. Kami hanya ingin pulang, ke rumah kami, ke bukit kami, yang masih memiliki pepohonan, yang masih bisa kami sebut surga. Kami mohon.( dari warga/sup)