
Kudus,Elang Murianews (Elmu)- Meraup keuntungan bersih minimal Rp 500.000,- per sekitar dua jam kemungkinan jarang ditemukan di kalangan pedagang kaki lima (PKL) di Kota Kretek- Kudus. Namun Supeno (58) mampu meraihnya. Dengan jalan berjualan bubur kacang hijau (burjo) dan bubur ketan hitam. “Rata-rata 200 porsi yang terjual, dengan harga Rp 5.000,-/porsi/mangkuk, sehingga hasil penjualannya Rp 1 juta. Setelah dikurangi dengan pembelian bahan baku dan biaya lain-lain, paling sedikit saya mengantongi hasil bersih Rp 500.000,-“ tuturnya, Kamis dinihari ( 29/5/2025).
Dan yang juga tidak kalah menariknya selain meraup untung besar, Peno-panggilan akrab Supeno, waktu berjualan tidak seperti PKL lain. Ia justru menggelar dagangannya pada sekitar 02.00 – sampai 04.00 WIB. “ Jika menjelang atau pada hari libur, burjo dan bubur ketan hitam saya sudah ludes sebelum pukul 04.00 “ tambahnya.
Hal itu, Elmu sudah empat kali berkunjung membeli di makan di tempat , atau dibungkus dibawa pulang. Saat tiba di lokasi penjualan di seputar “proliman” Barongan Kota Kudus, pada tepat pukul 04.00 , ternyata yang tersisa hanya satu porsi. Selanjutnya saat meluncur pada pukul 04.30 , kondisinya sudah habis/tutup.
Kemudian ketika membeli pada pukul 03.45, sudah ada dua orang pembeli yang dimakan di tempat. Sesaat kemudian datang seorang pemuda naik motot membeli 4 porsi untuk di bawa pulang. Namun sebelumnya Elmu lebih dahulu meminta dibungkuskan dua porsi dan yang satu porsi dibungkus. Setelah itu datang suami isteri usia muda. “Maaf mbak tinggal satu porsi. Purun napa mboten-mau atau tidak” tutur Peno. Pasangan memutuskan tidak jadi membeli. “Lha maunya kami beli dua porsi dimakan di tempat dan dua porsi dibungkus untuk keluarga di rumah,” ujar “calon” pembeli tersebut sedikit kecewa.
Peno mengungkapkan pula, sebagian besar pelanggannya, adalah para bakul- sopir yang hendak membeli – mengangkut dagangan di pasar sayur-buah-buahan di seputar pasar Bitingan Kudus. Pasar ini hanya buka pada malam hingga menjelang pagi hari. Sedang pelanggan lain, adalah masyarakat umum.
Enak- murah
Para pelanggan maupun pembeli pada umumnya menyatakan, burjo dan bubur ketan hitam, produksi Peno rasanya enak dan harganya relatif murah. “Jika makan satu porsi burjo, atau bubur ketan hitam, atau campuran antara burjo dan ketam hitam, seperti telah makan pagi-sarapan. Lumayan kenyang. Lagi pula termasuk makanan bergizi,” ujar pasangan Sujarwo- Srini, yang mengaku hampir setiap malam “sarapan “ di angkringannya Peno.
Angkringan itu berupa “gerobak”. Dengan dua roda ukuran roda becak dan satu roda ukuran lebih kecil. Dimodifikasi dengan di bagian bawah untuk tempat menyimpan mangkok. Di bagian tengah diisi tiga buah “dandang” terbuat dari “stainlees steel”, untuk meyimpan burjo, bubur ketan hitam dan santan,” Jadi terlebih dahulu kami masak di rumah di Desa Mlati Lor, lalu saya angkut dengan gerobak menuju Proliman Barongan yang berjarak sekitar satu kilometer. Biasanya saya berangkat sekitar pukul 01.00 – 01.30. WIB. “ ujar Peno.
Ia menambahkan, setiap kali berjualan menyediakan sekitar 2,5 kilogram kacang hijau, yang terlebih dahulu direndam agar menjadi lunak (empuk) dan baru diproses jadi bubur. Kemudian beras ketan hitam lebih dari 3 kilogram, 5 butir kelapa yang diproses menjadi santan, gula merah dan jahe. Setelah diproses menjad bubur akan menghasilkan rata-rata 200 mangkok/porsi. “ Tidak ada tambahan bahan pengawet. Selain itu bahan bakar untuk memasaknya saya menggunakan arang kayu. Ini yang menjadikan rasa burjo dan bubur ketan hitam digemari para pelanggan saya,”
Itu memang terbukti dari sisi penjualan yang rata rata cukup. Meski hanya tersedia sejumlah kursi plastik dan tikar yang digelar di emperan toko/kios, serta lampu remang remang, tidak menjadikan “penghambat” bagi para pelanggannya untuk tetap “menyerbu” burjo dan bubur ketan hitamnya Peno yang dikaruaniai tiga orang putra. Satu diantaranya sudah berumah tangga.(sup)