Kudus, Elang Murianews (Elmu) – Debit air bendung Klambu yag berada di Desa Penganten Kecamatan Klambu Kabupaten Grobogan pada posisi Minggu pukul 20.00 WIB ( 9/3/2025) tercatat 775 meter kubik per detik. Atau mengalami penurunan dibanding dengan Minggu siang, sehingga statusnya masih “siap”.
Dengan debit sebesar itu, maka penduduk yang berada di seputar daerah aliran sungai (DAS) Wulan maupun Juwana, tidak perlu khawatir terjadinya banjir. Namun melihat peta sebaran curah hujan yang dikeluarkan Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG) Pronvinsi Jawa Tengah hingga lima hari ke depan masih diwarnai hujan lebat, maka sebaiknya warga tetap “bersiap”. Terutama daerah/desa yang telah ditetapkan sebagai rawan bencana.
Bupati Kudus, Samani Intakoris, Minggu sore mengunjungi pintu pembagi/pengatur banjir Wilalung di Desa Kalirejo Kecamatan Undaan untuk melihat secara langsung . Dengan mengenakan kaos putih lengan panjang, celana warna khaki dan sepatu kets putih, bupati yang murah senyum ini memperoleh penjelasan dari “pengelola “ Wilalung.
Wilalung dibangun pemerintah Belanda secara bertahap sejak tahun 1908- 1916 (selama delapan tahun), namun baru dioperasikan pada tahun 1918. Sebelumnya, yaitu tahun 1892, Belanda terlebih dahulu membangun saluran air sejak dari pintu Wilalung hingga laut Jawa di wilayah Demak- kini dikenal sebagai Sungai Wulan.
Pintu Wilalung memiliki 11 pintu. Masing masing pintu berketinggian rata-rata 7-8 meter. Dan sembilan pintu mengarah ke Sungai Juwana yang panjangnya 62,8 kilometer menuju Laut Jawa di wilayah Kecamatan Juwana Kabupaten Pati. Setelah melalui wilayah Kecamatan Undaan, Mejobo, Jekulo (Kudus)- Margorejo – Gabus- Juwana (Pati). Namun yang masih difungsikan pintu nomor 8 .
Sedang dua pintu lainnya mengarah ke Sungai Wulan, lewat Kecamatan Undaan- Jati (Kudus), Karanganyar – Mijen (Demak) dan Welahan (Jepara).
Sebagai hulu sungai Juwana dan Wulan, lebih dahulu menerima pasokan air dari Sungai Lusi yang panjangnya 166, 23 kilometer dan berhulu di seputar wilayah Kabupaten Blora, Juga dipasok dari Sungai Serang hilir yang panjangnya 86,67 kilometer dihitung dari Waduk Kedung Ombo di perbatasan wilayah Kabupaten Boyolali, Sragen dan Grobogan. Termasuk Sungai Serang hulu dengan panjang 46,50 kilometer dihitung dari waduk Kedung Ombo sampai hulunya di seputar Gunung Merbabu. Aliran sungai sungai tersebut berikut “anak sungainya” menuju Bendung Klambu di Kecamatan Klambu Kabupaten Grobogan..
Meski usia pintu pembagi banjir Wilalung sudah 117 tahun tetapi masih nampak gagah perkasa. Dan masih mampu menjalankan “fungsi dan tugasnya” dengan cukup baik, sehingga pemerintah membatalkan niatnya untuk memuseumkannya.
Pemerintah Belanda saat itu mendesain sembilan pintu Wilalung dijadikan pintu masuk untuk menggelontorkan banjir yang banyak mengandung lumpur ke rawa Prawoto Kecamatan Sukolilo hingga 1.650 meter kubik/detik. Sedang sekitar 350 meter kubik lainnya dialirkan ke Sungai Wulan lewat dua pintu.
Setelah pelumpuran ke rawa Prawoto berhasil merubah menjadi lahan pertanian dan pemukian penduduk, atau yang disebut colmatase, maka debit air yang semula sebagian besar dibuang ke Sungai Juwana dialihkan ke Sungai Wulan. Dibarengi dengan normalisasi sungai, sehingga kapasitasnya ditingkatkan dari 350 meter kubik menjadi 850 – 1100 meter kubik/detik.
Normalisasi sebagian Sungai Wulan ini berlangsung pada tahun 2009. Dengan lebar sungai menjadi rata rata 80 meter dan diproyeksikan mampu bertahan hingga 50 tahun. Namun baru beberapa tahun kemudian, sungai yang bermuara di Laut Jawa wilayah Kecamatan Wedung Demak ini mulai bermasalah. Terutama tingginya pelumpuran, di banyak titik terjadi tanggul jebol, rusak , kebocoran hingga rawan jebol. Hingga terakhir kalinya pada awal 2024, debit banjir yang “hanya” berkisar 800- 1.000 meter kubik mampu menjebol tanggul kiri Sungai Wulan wilayah Desa Ketanjung Kecamatan Karanganyar Demak. Akibatnya melumpuhkan lalulintas Demak –Kudus , berbagai jenis kerusakan, hingga ribuan warga terpaksa diungsikan.
Awal Februari 2025, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juwana, kembali menormalisasi Sungai Wulan, yang diawali di seputar wilayah Dukuh Goleng Desa Pasuruhan Lor Kecamatan Jati Kudus sepanjang 30 kilometer. Sedang total panjang Sungai Wulan tercatat 48 kilometer. Sisanya panjang 18 kilometer, yang terhitung sejak dari Wilalung hingga seputar jembatan Tanggul Angin belum diketahui dinormalisasi atau tidak.(sup).