Ritual Ampyang Maulid, Semakin Menarik

elangmur - Senin, 16 September 2024 | 18:40 WIB

Post View : 413

Ampyang Maulid - tradisi memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW di Desa Loram Kulon -Desa Loram Wetan Kecamatan Jati Kudus, Senin ( 16/9/2024) Foto sup.

Kudus, Elang Murianews- Ritual Ampyang Maulid dalam rangka memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW , Selasa siang  (16/9/2024) berlangsung meriah dan semakin menarik dengan atribut yang dikenakan para peserta. Diawali dari Lapangan Sepakbola Desa Loram Wetan Kecamatan Jati- menuju komplek Masjid Al Taqwa di Desa Loram Kulon.

                Di seputar lapangan, tepi kanan kiri jalan raya hingga  halaman Masjid, yang berjarak kurang dari  dua kilometer, dipenuhi warga. Baik tua,muda  hingga anak anak. Mereka tidak menghiraukan teriknya sinar matahari yang mencapai suhu 32- 33 derajat Celsius. Pelepasan  ritual di lakukan Mantan Bupati Kudus ke -28(periode 2008-2013, 2013-2018) dan anggota DPR RI , Musthofa. Dia juga  bertempat tinggal di Desa Loram Wetan.

                Dibanding dengan  acara serupa yang digelar pada Kamis ( 28/9/2023), maka penampilan peserta ritual Selasa (16/9/2024) lebih menarik. Diantaranya, penunggang “kuda” raksasa, singa raksasa, rombongan anak-anak berbusana  dengan bahan plastik warna warni, hingga gunungan Ampyang  yang telah dimodifikasi.

Penunggang "Kuda raksasa"- Foto sup .
"Singa Raksasa"- tampil di ritual Ampyang Maulid. Foto Sup.

                Ampyang menurut buku berjudul Pesona Ampyang Maulid Masjid Wali Loram Kulon edisi pertama 2006 yang ditulis tim dengan ketuanya KH Alif Syarofi, adalah sejenis krupuk. Terbuat dari tepung, berbentuk bulat, berwarna aneka macam. Krupuk tersebut dijadikan hiasan pada nasi dan lauk pauk yang diletakkan pada anyaman bambu berbentuk segi empat. Sedang ampyang “modifikasi” berbentuk gunungan.  Isinyapun lebih berfariasi dan bentuknya juga menarik.

Modifikasi Amyang- menambah daya tarik pengunjung. Foto Sup

                Lalu menurut Pemerintahan Desa Loram Kulon dan Pengurus Masjid At Taqwa Loram Kulon Ikhwanuddin , fungsi ritual Ampyang Maulid (AM) antara lain sebagai  sarana mendekatkan diri kepada Tuhan,  menumbuhkan rasa muhabbah kepada Nabi Muhammad SAW, media dakwah islamiyah, komunikasi kehidupan bermasyarakat dan pembinaan  mental maupun perilaku islami.

                Sedang tujuannya dari aspek agama, untuk mendorong masyarakat memiliki kepedulian terhadap peringatan hari-hari besar Islam. Mendorong  masyarakat agar mempunyai kebisaan  gemar memberikan sebagian hartanya di jalan Allah dan merangsang kepada masyarakat agar memiliki kepedulian yang tinggi terhadap perkembangan syiar Islam.

                Lalu dari aspek budaya , melestarikan budaya -AM sebagai media dakwah islamiyah, memperkaya budaya bangsa dan melestarikan budaya AM sebagai warisan nenek moyang. Pada masa kolonial  hingga  masa menjelang penjajahan Jepang , tradisi AM berlangsung dengan baik tanpa adanya tekanan dari penguasa. Namun pada masa pemerintahan Jepang (1942-1945) tradisi AM  berhenti total, karena tengah dilanda krisis ekonomi, bahan makanan dan sandang. baru bangkit lagi pada  tahun 1947 – 1959,  kemudian ambles lagi, dan bangkit lagi pada 1995 hingga sekarang . Bahkan sejak sekitar tujuh tahun terakhir sebelum AM lebih dahulu digelar Loram Expo (Pameran hasil produksi UMKM Desa Loram Kulon), (Sup) .

 

Halaman:

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Berita Terkini

img single