
Kudus, Elang Murianews- Ritual Ampyang Maulid dalam rangka memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW , Selasa siang (16/9/2024) berlangsung meriah dan semakin menarik dengan atribut yang dikenakan para peserta. Diawali dari Lapangan Sepakbola Desa Loram Wetan Kecamatan Jati- menuju komplek Masjid Al Taqwa di Desa Loram Kulon.
Di seputar lapangan, tepi kanan kiri jalan raya hingga halaman Masjid, yang berjarak kurang dari dua kilometer, dipenuhi warga. Baik tua,muda hingga anak anak. Mereka tidak menghiraukan teriknya sinar matahari yang mencapai suhu 32- 33 derajat Celsius. Pelepasan ritual di lakukan Mantan Bupati Kudus ke -28(periode 2008-2013, 2013-2018) dan anggota DPR RI , Musthofa. Dia juga bertempat tinggal di Desa Loram Wetan.
Dibanding dengan acara serupa yang digelar pada Kamis ( 28/9/2023), maka penampilan peserta ritual Selasa (16/9/2024) lebih menarik. Diantaranya, penunggang “kuda” raksasa, singa raksasa, rombongan anak-anak berbusana dengan bahan plastik warna warni, hingga gunungan Ampyang yang telah dimodifikasi.


Ampyang menurut buku berjudul Pesona Ampyang Maulid Masjid Wali Loram Kulon edisi pertama 2006 yang ditulis tim dengan ketuanya KH Alif Syarofi, adalah sejenis krupuk. Terbuat dari tepung, berbentuk bulat, berwarna aneka macam. Krupuk tersebut dijadikan hiasan pada nasi dan lauk pauk yang diletakkan pada anyaman bambu berbentuk segi empat. Sedang ampyang “modifikasi” berbentuk gunungan. Isinyapun lebih berfariasi dan bentuknya juga menarik.

Lalu menurut Pemerintahan Desa Loram Kulon dan Pengurus Masjid At Taqwa Loram Kulon Ikhwanuddin , fungsi ritual Ampyang Maulid (AM) antara lain sebagai sarana mendekatkan diri kepada Tuhan, menumbuhkan rasa muhabbah kepada Nabi Muhammad SAW, media dakwah islamiyah, komunikasi kehidupan bermasyarakat dan pembinaan mental maupun perilaku islami.
Sedang tujuannya dari aspek agama, untuk mendorong masyarakat memiliki kepedulian terhadap peringatan hari-hari besar Islam. Mendorong masyarakat agar mempunyai kebisaan gemar memberikan sebagian hartanya di jalan Allah dan merangsang kepada masyarakat agar memiliki kepedulian yang tinggi terhadap perkembangan syiar Islam.
Lalu dari aspek budaya , melestarikan budaya -AM sebagai media dakwah islamiyah, memperkaya budaya bangsa dan melestarikan budaya AM sebagai warisan nenek moyang. Pada masa kolonial hingga masa menjelang penjajahan Jepang , tradisi AM berlangsung dengan baik tanpa adanya tekanan dari penguasa. Namun pada masa pemerintahan Jepang (1942-1945) tradisi AM berhenti total, karena tengah dilanda krisis ekonomi, bahan makanan dan sandang. baru bangkit lagi pada tahun 1947 – 1959, kemudian ambles lagi, dan bangkit lagi pada 1995 hingga sekarang . Bahkan sejak sekitar tujuh tahun terakhir sebelum AM lebih dahulu digelar Loram Expo (Pameran hasil produksi UMKM Desa Loram Kulon), (Sup) .