
Kudus, Elang Murianews (Elmu) – Sudah sekitar dua pekan terakhir, Slamet (51)atau lebih akrab dipanggil Samik, mengemudikan becak listrik pemberian dari Presiden Prabowo Subianto. Dan “Abang becak” yang tinggal di Gang 3 Desa Kaliputu Kecamatan Kota Kudus ini menyatakan senang, karena tidak lagi “ngos-ngosan” dengan becak listrik bernomor yang diberi nomor registrasi 76 . “ Saya rutin dua kali “ngecas” akinya, agar tidak mogok di tengah jalan. Ngecasnya cukup di rumah,” ujarnya, Sabtu 29/11/2025.
Meski telah menggunakan becak listrik, hingga saat ini menurut Slamet belum nampak adanya penambahan jumlah penumpang maupun jumlah pendapatan/penghasilan. “Saya hanya punya seorang pelanggan . Tetangga sendiri yang setiap hari saya antar jemput. Dan keseharian saya lebih sering “ngetem”- menunggu penumpang di mulut Gang 3 Desa Kaliputu“ tambahnya.
Dan baru dua kali mengantar penumpang dengan jarak sekitar 5-6 kilometer. Sekali ke seputar rumah sakit Mardi Rahayu dan sekali ke seputar Desa Pasuruhan Kidul. Dengan memperoleh imbalan Rp 30.000,- “Selebihnya hanya seputar kota saja, sehingga penghasilan rata rata yang saya peroleh hanya Rp 50.000,-/hari . Padahal saya punya seorang isteri dan dua anak. Mana cukup “ beber Slamet yang bertubuh gempal dan berkulit gelap.
Oleh karena itu, sebelum menerima becak listrik, becak tradisional miliknya dimanfaatkan untuk menarik barang dengan bobot besar. Seperti barang rongsokan. Pernah pula mengantar barang ke kota Purwodadi yang berjarak sekitar 42 kilometer. “ Butuh waktu sekitar setengah hari. Dan itu saya “lakoni” agar saya memperoleh penghasilan yang memadai,” tambahnya.
Becak tradisional yang merupakan “alat” sumber penghasilan sehari-hari itu masih tetap dipertahankan. Meski telah memperoleh becak listrik gratis dari Presiden. Terutama di saat ada “order” mengirim barang dalam jumlah besar.
Slamet kelahiran Kudus 31 Desember 1974 adalah anak ke-4 dari 7 bersaudara pasangan suami isteri Suran- Masri. Ayahnya, Suran, juga dikenal sebagai penarik becak. Ibunya tidak memiliki pekerjaan tetap. Dengan latar belakang keluarganya yang seperti itu, maka imbasnya perjalanan hidup Slamet juga serba pas-pasan.
Sampai saat ini masih belum mampu memiliki rumah sendiri - masih menumpang . Dan untuk menopang kehidupan sehari-harinya, isterinya membantu sebagai tenaga lepas di salah satu tetangganya. Slamet dan keluarganya, termasuk diantara sekitar 56.000 warga Kudus dengan katagori tidak/kurang mampu. Salah satu problem utama bagi Pemkab Kudus yang hingga sekarang belum mampu teratasi.(sup)