
Kudus, Elang Murianews (Elmu)- Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus, bakal menyewa kembali bekas Stasiun Kereta Api (KA) Kudus dan kemudian dialih-fungsikan menjadi pusat jajan serba ada (Pujasera)-kuliner hingga cendera-mata. Sekaligus terhubung dengan tempat ziarah-wisata Sunan Kudus dan Sunan Muria.
Pemda juga memastikan samasekali tidak akan merubah bentuk keaslian stasiun KA yang dibangun pada 1883 masa pemerintahan Hindia Belanda dan ditangani Samarang-Joana Stoomtram Maatschappij. Serta telah ditetapkan sebagai cagar budaya bernomor 11-19/Kud/ 38/TB/04 per September 2005. “ Pak Bupati, Samani Intakoris yang didampingi staf sudah bertemu langsung dengan PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah opersional 4 Jawa Tengah. Intinya PT KAI setuju untuk menyewakan bekas stasiun KA yang terletak di Kelurahan Wergu Wetan ini kepada Pemkab Kudus. Hanya saja besaran sewa belum tuntas. PT KAI meminta Rp 4 miliar untuk lima tahun, sedang kami berharap tidak sebesar itu,” tutur Kepala Inspektorat Pemkab Kudus, Eko Djumantoro, yang dihubungi Jumat sore ( 23/5/2025).
Selain belum final tentang besaran sewa, tambah Eko, Pemkab Kudus juga meminta kepada PT KAI untuk menghadirkan sebuah lokomotif atau paling tidak gerbong kereta api. Ini sebagai pelengkap visualisasi tentang sosok stasiun kereta api.
Eko juga mengungkapkan, lahan-bangunan yang disewa Pemkab, terbatas sejak dari “istana buah” di sisi selatan hingga seputar warung soto kerbau di sisi utara. Sedang lokasi parkir berada di sisi timur , yang mampu menampung cukup banyak mobil maupun motor.
Masih utuh.
Kondisi stasiun KA Kudus ini sebagian besar bangunannya masih dalam kondisi asli. Seperti emplasemen, peron, wesel, pelang papan nama stasiun, nomor jalur dan ornamen masih terlihat utuh Terkecuali di bagian depan sebelah barat menghadap jalan raya, dibangun “pagar” baru dari bahan semen (tembok semen).Ditambah dilenyapkannya, satu rel khusus yang melintas di emperan stasiun.serta rangkaian rel-rel yang berada di halaman stasiun samping selatan.

Sedang kondisi tiang bangunan yang semuanya dari bahan besi, termasuk kerangka bangunannya yang juga berbahan besi, meski terlihat kokoh namun sudah banyak yang “dimakan” karat. Begitu pula, kaca yang didominasi warna kekuningan dan diselingi warna putih.Sebagian kaca itu bahkan berlobang-lobang kecil –terutama di bagian sisi timur. Lobang tersebut konon bekas tembakan peluru tajam saat pasukan Belanda tengah beraksi untuk menduduki kota Kudus dan stasiun KA ini menjadi salah satu sasaran.
Sedang fungsi kaca-kaca tersebut untuk menahan sinar matahari dan sekaligus bentuk ornamen pemanis bangunan. Khusus untuk talang air yang terbuat dari bahan seng, termasuk cerobong sebagian besar dalam kondisi rusak berat. Sebaliknya atap seng di bangunan utama masih tergolong “baik”. Dan sejak menjelang akhir Desember 2020 dijadikan parkir/garasi lebih dari tujuh mobil. Namun beberapa bulan kemudian ditutup total dengan pagar seng yang mengeliingi lokasi. Adapun bangunan yang tidak asli, adalah sebuah rumah dan toko (ruko) yang berada di sisi utara. Berdekatan dengan jalar raya.
Upacara 17 Agustus
Sebelum ditutup dengan pagar seng, sekitar 25 anggota komunitas sepeda onthel/unta Ontoseno sempat menjadikan stasiun KA tersebut untuk merayakan hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia ke-76 (Selasa (17/8/2021). .Antara lain ditandai dengan baca puisi dan dipimpin langsung ketuanya Sancaka Dwi Supani.

Menurut Supani, mantan kepala seksi sejarah museum keperbukalaan Dinas Kebudayaan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Kudus,lokasi acara (stasiun KA) dipilih karena terkait dengan sejarah perjuangan rakyat Kudus. Sekaligus menunjukkan kepada banyak pihak tentang kondisi terkini stasiun yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya bernomor 11-19/Kud/ 38/TB/04 per September 2005. “Ini salah satu bangunan sejarah yang pernah ditembaki tentara Belanda dari atas pesawat untuk menghacurkan para pejuang 45. Juga bangunan bersejarah perkereta apian indonesia ( PT Kereta Api Indonesia (KAI). Kami hanya bisa “berteriak”. Semoga ada pihak yang mendengar, melihat dan kemudian menyelamatkan bekas stasiun yang juga sempat dijadikan pasar sementara yang dikelola Dinas Pasar,” ujarnya saat itu.
Pasar tradisional.
Menurut catatan Elmu, jalur KA yang menghubungkan kota Semarang- Demak- Kudus- Pati hingga Rembang sempat bertahan selama puluhan tahun. Namun sejak tahun 1980, penumpang kereta api turun drastis karena pelebaran jalan- jalan beraspal dan makin banyaknya kendaraan pribadi. Akhirnya stasiun ini di non-aktifkan pada tahun 1986.dan pada sekitar tahun 1990 berubah fungsi menjadi pasar tradisional..
Bangunan pasar tradisional berada disisi timur dan dibangun Pemkab Kudus (Dinas Pasar) dengan hak sewa. Kemudian Terhitung sejak 10 April 2017, pasar tradisional ini diserahkan kembali ke PT KAI. Dan kemudian para pedagang pasar dipindahkan ke Pasar Baru, beberapa ratus meter sebelah timur stasiun KA.
Meski telah kembali ke tangan PT KAI, namun Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini, samasekali tidak ada upaya untuk merawat, apalagi merenovasi hingga sekarang. Atau sekitar delapan tahun terakhir dibiarkan menjadi “hutan kota dan sarang hantu”. Kemudian ditangan Bupati Kudus Samani Intakoris dengan Wakil Bupati Bellinda, yang baru dilantik per 20 Februari 2025 , stasiun KA Kudus/Wergu dialih-fungsikan. Hal ini tidak hanya mampu merubah “wajah rusak” menjadi wajah baru yang cantik-semringah-mempesona. Namun juga menjadi “ikon” baru bagi Kota Kretek. Membuka lapangan kerja baru dan roda perekonomianpun bakal meningkat. Warga Kudus juga menanti polesan bangunan Pujasera Wergu ditangan Samani Intakoris, yang berlatar belakang arsitek. (Sup).