
Kudus, Elang Murianews (Elmu)- Kesenian Terbang Papat mengalun merdu lagi syahdu Sabtu Pon malam 9 Syuro atau 5 Juli 2025. di serambi depan seputar komplek Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus. Ini merupakan bagian dari upacara tradisonal Buka Luwur Sunan Kudus, yang berlangsung setiap tanggal 10 Muharram /Syuro.
Sampai sekarang belum diketahui secara pasti penemu-penggali Terbang Papat tersebut. Namun , Museum Rekor Indonesia (Muri) memberikan penghargaan Mahakarya Kebudayaan kepada Forum Komunikasi Terbang Papat (FKTP) Kudus Jawa Tengah. Penghargaan itu diberikan atas pemecahan rekor nasional dan dunia bermain terbang papat selama 87 jam.
Manajer Muri, Sri Widayati, memberikan penghargaan itu pada pembukaan Kirab Prosesi Dhandhangan di Alun-Alun Simpang Tujuh Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Kamis (19/7/2012) . Dan sebelumnya , didahului pagelaran 131 grup terbang papat, sejak Minggu (15/7/2012) pukul 16.40 WIB hingga Kamis (19/7/2012) pukul 12.45 WIB. "Mereka yang seharusnya memecahkan rekor Muri menabuh terbang papat selama 83 jam, justru menabuh selama 87 jam," kata Sri Widayati. Ia menambahkan rekor itu tercatat sebagai rekor ke 5.524. Kemudian pada tahun 2014, Kementerian pendidikan kebudayaan RI , menetapkan kesenian Terbang Papat sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) dengan nomor regristasi 201500039.

Sedang ritual Buka Luwur, baru ditetapkan sebagai WBTb pada tahun 2022, bersama 16 hudaya lainnya dari Jawa Tengah. Ke-16 WBTb tersebut : Wayang Wong Ngesti Pandowo, Warak Ngendog, Telur Mimi Kendal, Barongan Kudus, Jenang Kudus, Buka Luwur Kangjeng Sunan Kudus, Tenun Troso Jepara, Tempe Kemul Wonosobo, Baritan Asemdoyong, Ngabeungkat Dawuan, Batik Salem Brebes Jawa Tengah Kemahiran dan Kerajinan Tradisional, Kirab Malam 1 Suro Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Teater Rakyat Menoreh Cilacap, Payung Juwiring, Putaran Miring Gerabah Melikan dan, Kitab Primbon Haji Syekh Imam Tabbri Sragen.S
Sejarah :
Menurut Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X, Terbang Papat merupakan suatu kesenian yang bernafaskan Islami. Kesenian ini telah ada dan terpelihara di kehidupan masyarakat Kudus, Jawa tengah sejak dulu jauh sebelum kemerdekaan, yaitu sejak tahun 1936.
Pada waktu dulu kesenian ini sangat eksis di keseharian masyarakat Kudus. Namun kini aktivitas kesenian tradisi Terbang Papat menurun di kalangan generasi muda. Sehingga kesenian ini hanya didominasi generasi tua.
Oleh karena itu agar kesenian ini tidak punah maka munculah gagasan dibentuknya Forum Komunikasi Terbang Papat (FKTP) oleh Pengurus Masjid Agung Kudus. FKTP yang diketuai Kholid Seif, bertujuan untuk melestarikan kesenian tersebut .
Terbang Papat biasanya dipentaskan pada acara hajatan perkawinan, puputan , khitanan dan juga menjadi salah satu rangkaian acara pada upacara Buka Luwur Kanjeng Sunana Kudus. Terbang Papat dilengkapi dengan satu buah jidur dan empat buah rebana yang terdiri dari Kemplong, Telon, Salahan dan Lajer.

Instrumen musi Terbang Papat sangat unik karena instrumen terbang (ketipung) berbeda dengan terbang yang biasa digunakan dalam grup rebana. Terbang papat menggunakan terbang dengan ukuran yang lebih besar yaitu berdiameter 37-42 cm. Terbang kemplong dan telon mempunyai peran penting sebagai pengendali irama, sedangkan salahan dan Lajer lebih berfungsi sebagai pemanis nada atau variasi suara.
Cara penabuhan biasanya menggunakan pola ketukan, yaitu ketukan enam dan ketukan empat dengan tabuhan jidur di sela setiap ketukan. Ciri khas Terbang Papat adalah pada lagu atau irama melantunkannya serta alat yang benar-benar murrni rebana, tanpa ada penambahan alat musik lainnya. Keunikan lainnnya dari terbang Papat adalah selain menabuh rebana atau terbang, penabuh juga harus bisa melantunkan lagu-lagu.
Adapun lagu yang dilantunkan pada iringan Terbang Papat adalah berasal dari Kitab Majmu’ah para Syarifil Anam, sebanyak lima belas lagu. Jika semua lagu dinyanyikan secara utuh, maka setidaknya membutuhkan waktu selama tiga jam. Fungsi dari Kesenian Terbang Papat adalah selain sebagai hiburan juga sabagai media dakwah, karena dalam terbang papat terdapat bacaan-bacaan maulidurrasul Nabi Muhammad SAW dengan diiringi musik tradisi.
Dalam buku berjudul Buka Luwur Kanjeng Sunan Kudus Karamah Penuh Berkah, terbitan Yasasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK), penampilan Terbang Papat dan shalawatan diikuti sekitar 100 orang. Mereka bergantian dalam menabuh terbang serta membawakan lagu.
Sedang kekhasannya, justru bukan terletak pada suara tabuhan tangan ke rebana, tetapi suara gaung atau pantulan yang hanya bias terdengar ketika pemain rebana sudah benar-benar mahir. Selain itu posisi baku penabuh kemplong duduk di deretan paling kanan dari arah penonton secara berderet dan paling kiri penabuh terbang lajer.Adapun lagu tradisional yang diketengahkan anatara lain : Assalamu’alik, Tanaqal, Wulodal, Bisyahri dan Badat Lana.
Menurut Ketua FKTP, Kholid Seif, FKTP sudah terbentuk di seluruh kecamatan yang ada di Kabupaten Kudus, yang berjumlah 9. Setiap grup Terbang Papat biasanya terdiri 5-8 orang. “Umumnya sudah sepuh-sepuh. Inilah yang membuat kami trenyuh sekaligus prihatin. Dengan digelarnya festival pada tahun 2012 diharapkan generasi muda akan lebih tertarik untuk bermain terbang papat,” tuturnya ketika ditemui di arena festival 2012. Sedang kondisi riil, saat ini belum diketahui, karena minimnya data yang tidak pernah diperbaruhi secara rutin.(sup).