Raden Umar Said Sunan Muria dan Sewu Kupat

elangmur - Minggu, 6 April 2025 | 18:25 WIB

Post View : 868

Puluhan makam - di komplek makam-masjid Sunan Muria Foto sup

Kudus, Elang Murianews (Elmu)- Dijadwalkan ritual parade sewu kupat (seribu ketupat) yang dipusatkan di Taman Ria Desa Colo Kecamatan Dawe , 18 kilometer utara pusat pemerintahan Kabupaten Kudus berlangsung Senin pagi (7/4/2025). Setelah beberapa kali absen tampil, karena munculnya “pagebluk” Covid-19. Dan parade sewu kupat itu sendiri berlangsung sejak tahun 2017, untuk meneruskan tradisi budaya warga desa setempat bada kupat/kupatan, yang konon sudah berlangsung sejak era Sunan Muria.

         Bila Sunan Muria yang dimaksud adalah Sunan Muria yang dimakamkan di “leher” Gunung Muria ( 1.605 meter di atas permukaan air laut) wilayah Desa Colo, menurut peneliti Sejarah Wali Sanga dan Masjid Agung Bintoro Demak, Aka Hasan, adalah Raden Umar Said nama aslinya, putra pertama dari isteri pertama Sunan Kalijogo, yang lahir di Kadilangu Demak pada tahun 1456 Masehi (M).

Komplek Makam dan Masjid Umar Said Alias Sunan Muria (3)- di ketinggian di atas 1.000 meter di atas permukaan air laut. Berada di Desa Colo Gunung Muria 18 kilometer utara kantor pusat pemerintahan kabupaten Kudus. Foto "drone" 2022.

          Sedang isteri pertama Sunan Kalijogo adalah anak kedua dari Syekh Ali Murtadho bin Ibrahim Asmoroqondi yang bernama Putri Entikyawati pada tahun 1454 M dimana saat itu Sunan Kalijogo berumur 21 tahun, sedangkan Putri Entikyawati binti Ali Murtadho berumur 31 tahun.

          Raden Umar Said adalah Sunan Muria ke-3 setelah Syekh Maulana Hasan Syadzilly (Sunan Muria ke-1) dan Abu Hasan al-Habsyi bin Hasan Syadzill (Sunan Muria ke-2). Syekh Hasan Syadzilly ikut mendirikan Dewan Walisongo pada tanggal 14 Dzul Hijjah 870 H atau bertepatan dengan tanggal 27 Juli 1466 M. Syekh Hasan Syadzilly juga ikut mendirikan Kerajaan Demak Bintoro bersama para wali yang lain pada tanggal 21 April 1475 M atau 14 Dzul Hijjah 879 H.

           Syekh Syadzilly dimakamkan di seputar air tiga rasa Desa Japan Dawe Kudus. Lalu untuk makam Abu Hasan al Habsyi di atas Belik Ngandong berdekatan dengan lokasi makam Ratu Lembah (Siti Sholihah binti Syekh Mudhofar Malik Hasan al-Maghribi). Atau lebih dari 100 meter dari makam Sunan Muria ke-1.

           Sedang Ratu Lembah adalah istri pertama Prabu Brawijaya (tanpa embel-embel satu, dua atau tiga,) yang bernama Sri Ratna Aji Pangkaja Paraneshwara (Arya Damarwulan) yang dinikahinya sebelum Perang Paregreg (1404-1406 M). Adapun istri kedua Arya Damarwulan adalah Dyah Rani Suhita (Dewi Kencana Wungu) yg dinikahinya setelah Perang Paregreg.

            Umar Said atau Sunan Muria ke-3, menikah dengan adik Jakfar Shodiq yang merupakan anak ragil atau anak ke-8) dari Sunan Kudus ke-1 (Syekh Muhammad Jakfar Hasan al-Quds) pada tahun 1480 M. Dua tahun kemudian(1482 M), lahirlah anak pertamanya di Tayu (Pati bagian Utara) yang diberi nama Syarifuddin Sa'id yang kemudian populer dengan sebutan Saridin dan Syekh Jangkung.

            Ketika Saridin berumur 9 tahun, isteri Sunan Muria ke-3 ini wafat. Setahun kemudian Saridin kemudian dititipkan pada Ki Ageng Kiringan untuk dibina dalam Pesantren Dombang yang saat itu dipimpin oleh Sunan Bonang ke-4 yang bernama Syekh Maulana Ali Ridho bin Syekh Muhammad Hasan (Sunan Bonang ke-2) bin Syekh Abdullah Hasan Bakem al-Maghribi (Sunan Bonang ke-1).

         Sunan Muria, kemudian menikah lagi, dengan anak keempat Syekh Hasan Syadzilly ini yang saat itu berstatus janda. Dari pernikahan ini lahirlah Amir Hasan , yang dikenal dengan nama Sunan Nyamplungan di Karimunjawa Jepara . Dan Sri Ayu Ningsih yang populer dengan sebutan Dewi Nawangsih , yang makamnya berada di Masin, Desa Kandang Mas, Kecamatan Dawe, Kudus..

Halaman:

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Berita Terkini

img single